Ketika sedang searching, tiba-tiba, kami menemukan ini. Kumpulan cerpen kami di review oleh salah seorang pembacanya, dan itu di publish di blognya. Terima kasih kepada Mbak Indah Juli Sibarani yang telah membuat resensinya. Ini adalah resensi beliau terhadap buku Musafir. Mbak Indah terima kasih atas resensinya yang indah.

Cover Musafir

Penulis : Gola Gong
Penerbit : MadaniA Prima (Imprint dari Salamadani Publishing House)
Editor : Krisna Somantri
Copyeditor : Nurchasanah
Desain/Layout : Emma SM
Desain COver : Dadan Sulaeman
Halaman : 133 + x

Masih ingat kisah Balada Si Roy, karangan Gola Gong ? Kisah yang kental dengan sisi human interestnya ini bisa dibilang begitu melekat dalam hati pembacanya. Gola Gong memang pandai menyentuh hati pembaca lewat karya-karyanya yang menarik dan indah.

Sudah tak terbilang karya-karya dari penulis yang sehari-sehari bekerja di salah satu stasiun televisi swasta ini. Musafir adalah salah satu buku kumpulan cerpennya. Di buku ini terdapat lima belas ceria hasil karya Gola Gong, baik yang sudah pernah diterbitkan di media cetak ataupun belum. Lima belas cerita ini disajikan apik, menarik, dengan nuansa religi yang kental, sehingga pembacanya dapat menarik hikmahnya.

Beberapa cerita pendek yang menarik sebut saja Kidung Pagi di Pasar Klewer, yang bercerita tentang tokoh Suti, seorang penjual nasi liwet (makanan khas Solo, berupa nasi yang gurih, dengan lauk ayam, telur dan kanil, kepala santan yang dimask lama). Suti adalah seorang yang taat yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu Tuhan yang mengaturnya dan hidup mati manusia terserah pada Allah SWT.

Karena itulah meski harus bekerja keras menjual nasi liwet untuk mengumpulkan uang bagi biaya operasi anak perempuan satu-satunya, karena menurut dokter usus halusnya mengalami masalah, setelah pemberian obat yang salah. Suti dan suaminya, Harno, yang bekerja sebagai satpam, hanya bisa nrimo keadaan itu, yang merupakan kehendak Gusti Allah.

Mereka juga pasrah, bahwa Tuhan akan memberikan kemudahan baginya dalam mengumpulkan biaya operasi anaknya, Sari. Jalan terang atas pengobatan anaknya terbuka lebar ketika Suti secara tak sengaja menemukan bungkusan tas plastik hitam yang berisi uang dalam jumlah yang sangat besar, yang tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Suti.

Karena tak tahu siapa pemilik uang tersebut dan pembeli langganannya tidak ada yang merasa kehilangan uang tersebut, Suti akhirnya menggunakan uang tersebut untuk pembiayaan operasi anaknya. Meski anaknya telah sehat, namun Suti masih penasaran siapa pemilik uang tersebut. Iapun menemukan jawabannya lewat seorang penyapu jalan berseragam biru bertuliskan LAPAS Surakarta.

Lain lagi kisah Suara Sang Bilal. Dalam kisah ini Gola Gong menyampaikan pesan bahwa kita tak boleh sombong atas kesempatan dan karunia yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Nasrul telah membuktikannya. Ia yang diberikan suara yang indah sehingga menjadi bilal yang selalu ditunggu untuk mengundang adzan, menuduh teman akrabnya, Iman melakukan guna-guna terhadapnya ketika suara kebanggaannya tak dapat dikeluarkan saat mengumandangkan adzan.

Nasrul menganggap Iman adalah saingannya. Karena itulah ia tidak rela saat Iman menggantikannya menjadi bilal. Meski Iman telah mengatakan ia akan menyerahkan posisi bilal kepadanya, namun Nasrul tidak percaya sehingga ia pun melakukan perbuatan nekat. “Akulah bilal nomor satu!

Sementara itu, Musafir, yang menjadi judul buku ini, bercerita tentang seorang pria yang mencari keberadaannya ayahnya dan dalam perjalanan, ia singgah di sebuah desa yang masjidnya tak terurus dan kampung itu sendiri sedang menghadapi masalah penggusuran karena kampung tersebut akan dijadikan perumahan elit. Dicerita Musafir ini, terlihat sekali gaya penulisan Gola Gong yang sarat dengan nuansa religi dan humanis. Diperlihatkan bagaimana taatnya Musafir dalam menjalankan ibadah, namun ia tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari rasa takut.
Gola Gong adalah nama pena dari Heri Hendrayana Harris. Bersama istrinya, Tias Tatanka, mereka membangun Rumah Dunia (RD), sebuah pusat belajar sastra, jurnalistik, seni rupa, dan teater. Di Rumah Dunia, mereka berusaha memindahkan dunia lewat buku, dan berharap anak-anak bisa melihat dunia dari rumah lewat jurnalistik, sastra, film, seni rupa, teater dan internet.